28 Mei 2013

Surat dari Desa

Oleh. Angela Januarti

*Terbit di Kapuas Post – Minggu, 9 Desember 2012


Dear. David,
Dua puluh satu hari berlalu di bulan ini. Aku belum mendengar sapaanmu. Sapaan singkat, namun memberikan semangat. Bagaimana kabarmu? Di mana kamu sekarang? Aku ingin mendengarkan ceritamu seperti biasanya. Sejak kemarin aku kembali berpetualangan. Anggaplah aku mengikuti jejakmu. Kita berdua punya kesamaan untuk satu hal ini. Mengunjungi tempat-tempat baru dan mempelajari kehidupan masyarakatnya sangat menyenangkan, bukan? Aku mengerti bila kamu terkadang lupa untuk pulang.
Jarak kampung yang kukunjungi tidak terlalu jauh. Awalnya kami berniat berjalan kaki. Temanku bilang jarak tempuhnya 40-50 menit. Cukup jauh juga untuk aku yang jarang berjalan kaki. Kamu pasti merasa lucu. Berbeda dengan kamu yang sangat senang berjalan kaki. Bertugas di kota kabupaten membuatku selalu mengendarai motor kemana aku pergi.
Kami memilih jalur yang berbeda dan menggunakan motor. Pertama, jalannya masih bagus. Kami melewati perkebunan sawit. Kamu tahukan ini bukan permandangan yang kusukai? Tidak ada yang menarik bagiku dari pohon-pohon sawit. Aku malah membayangkan efek negatif pohon-pohon itu tumbuh dan merusak lingkungan. Kami sempat salah jalan. Ternyata temanku tidak hafal jalan menuju kampung itu. “Aku baru sekali ke sini. Jadi ingat-ingat lupa.” Dia menghentikan motor dan berpikir sejenak. “sebelah kanan,” tuturnya dan mulai menjalankan motor kembali. Belum lama dia ragu. “sepertinya kita salah jalan.” Melihat satu rumah, kami berhenti untuk bertanya. Ingin tertawa rasanya mendapati kami hampir tersesat.
Jalan mendekati kampung yang dituju cukup ekstrem untukku. Jalan tikus untuk penduduk pergi berladang. Kamu bisa membayangkannya? Kami masih mencoba menerobos dengan motor. Tidak berlangsung lama, temanku kelelahan. “Kampungnya sudah dekat, kita jalan saja ya,” ujarnya. Kami memutuskan berjalan kaki. Motor ditinggal di jalan. Panas terik matahari siang membuatku berkeringatan. Kamu pasti tahu apa yang kulakukan. Seperti biasa, aku punya cara sederhana menikmati perjalanan dengan gembira. Tebakanmu betul sekali! Aku menghilangkan lelah dengan berfoto ria.
Aku bertemu dua orang penduduk, sepertinya mereka suami istri yang akan pergi ke ladang. Aku menyapa. Mereka menanyakan tujuanku. Percakapan singkat terjadi. Tidak lama berselang, aku melihat pasangan lain tengah bekerja di ladang mereka. Aku kembali menyapa. Aku menyukai tempat ini. Ada banyak pohon-pohon menjulang tinggi. Ada juga pohon durian. Buahnya sangat lebat. Kamu sukakan? Pohon itu sangat tinggi. Aku sempat khawatir durian jatuh di jalan yang kami lalui. Masyarakat di sini hidup sebagai penoreh dan peladang. Mereka bertahan dengan kesederhanaan. Bayangkan saja, jarak tempat ini tidak jauh dari desa dan jalan utama. Aku bisa melihat dengan jelas perbedaan kehidupan antara mereka. Maju dan tidaknya.
*
Kami sampai di kampung tujuan. Aku berniat menemui beberapa orang untuk urusan pekerjaan. Aku terkejut mendapati satu rumah yang sangat sederhana. Dindingnya berkulit kayu. Memprihatinkan, bukan? Atau kamu sudah terbiasa menemukan hal serupa saat mengujungi banyak perkampungan? Aku menyapa pemiliknya. Ia tengah mengangkat kayu bakar yang dijemur di depan rumah. Anak yang digendongnya menangis. Ia ketakutan melihat kami. Mungkin ia berpikir kami berniat jahat. Ia seperti tidak biasa bertemu dengan orang luar. “Jangan takut, Adek.” Aku mencoba meyakinkannya untuk berhenti menangis. Pemilik rumah mengizinkan kami masuk dan berbicara sebentar. Aku memperhatikan seisi rumahnya. Hanya ada satu kamar yang dibuat sekat dari ruang tengah tempat kami duduk. Dapurnya berukuran 1 X 2 meter persegi. Anak itu masih menangis. Ia berdiri di dapur dan memperhatikan kami yang berbincang dengan ayahnya. Bagaimana mereka bisa bertahan dengan kehidupan seperti ini? Aku sempat bertanya dalam hati. Kami tidak berbicara lama. Aku tidak tega melihat anak itu menangis tanpa henti karena ketakutan. Aku memberikan kesempatan agar bapak itu bisa berdiskusi dengan istrinya yang masih berada di ladang. Kami berpamit untuk melanjutkan mengunjungi rumah lainnya.
“Aku mau buah rambutan,” ucap temanku. Memang ada rambutan yang berbuah lebat, tepat di taman depan rumahnya. “Belum ditawarin, jangan ambil sembarangan,” balasku.
“Sudah, tadi bapak ada menawarkannya.”
“Ambil saja, tapi buahnya asam,” jawab bapak pemilik buah rambutan. Ternyata bukan rambutan yang kami pikirkan. Masyarakat menyebutnya belitik. Benar sekali. Buahnya asam. Aku memetik tiga biji dan menikmati rasa asamnya. Aku lantas berpikir, bila rambutan ini manis, pasti bisa dijual untuk menambah pendapatan keluarga mereka.
Ada satu bapak yang kami kunjungi, tengah menjalankan bisnis barunya. Ia membeli karet masyarakat dan menjualnya kembali. Ia sudah mendapatkan keuntungan yang cukup banyak. Aku senang bantuan yang kami berikan dimanfaatkan dengan baik. Aku berkesempatan melihat karet yang ia tampung di kolam belakang rumahnya. Ada rasa gembira dan bangga. Aku berkeinginan penduduk lain bisa merasakan manfaat yang sama. Aku meminta Pak RT mendata masyarakatnya. Doakan aku ya, aku berharap program ini berjalan lancar sesuai tujuannya.
*
Kami pulang saat pekerjaan selesai. Cuaca mulai mendung. Tidak lama hujan deras. Kami bahas kuyup. Meski dingin, aku menikmati titik hujan yang membahasi tubuhku. Semua bawaanku basah. Aku teringat perkataanmu. Tiap kali hujan turun, kamu selalu bilang hujan itu milik kita. Sejak saat itu, aku merasa hujan selalu istimewa.
Petualanganku menyenangkan. Perjuangan ini terbayar bila aku memikirkan masyarakat yang kutemui. Aku bahagia bisa melayani sesama dengan tugas baruku ini. Aku belajar dari semangatmu. Ah … aku jadi merindukanmu. Aku teringat perkataanmu lagi. “Ingin sekali punya banyak waktu untuk melayani sesama, terutama anak-anak.” Apa yang kita rasakan selalu sama, ya? Aku merindukanmu.
Biasanya kita menyampaikan kerinduan lewat doa. Kamu masih sering melakukannya? Bertahun-tahun berlalu. Ini masih menjadi cara sederhana yang kulakukan. Kamu sudah mendengarkan pesanku lewat anginkan? Aku memintamu menjaga kesehatan. Tidak boleh lupa makan. Kamu juga sudah membaca ceritaku inikan? Kamu pasti menyukainya. Tenang saja. Masih banyak cerita yang akan kutulis untukmu. Jaga dirimu!

Love,
Mawar
*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar